Seiring dengan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) sejak 3 Juli lalu, aktivitas masyarakat kini terfokus di tempat tinggalnya masing-masing. Dari data Google Mobility, konsentrasi mobilitas masyarakat di permukiman kini justru meningkat dibandingkan dengan di tempat kerja. Hal ini dikhawatirkan dapat menjadi klaster covid-19 baru, yakni klaster permukiman.
Berangkat dari paparan data Evaluasi PPKM Darurat/Level 4 Jawa-Bali dari Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, selama satu minggu terakhir angka kasus harian wilayah Jawa dan Bali sudah menunjukkan tren penurunan.
Baca Juga :Peluang Usaha Agen Software
Hal ini juga ditunjukkan dari sebagian besar provinsi sudah menunjukkan tren penurunan penambahan kasus, terkecuali Jawa Tengah dan Bali.
Epidemiolog dari Universitas Gadjah Mada, Riris Andono Ahmad mengatakan, klaster rumah tangga adalah sebuah keniscayaan. “Akan tetapi, seharusnya penularan bisa berhenti di rumah tangga, jika PPKM diberlakukan dengan benar,” ujarnya kepada
Riris juga menambahkan, sejatinya tujuan dari PPKM ini adalah agar masyarakat untuk tetap tinggal di rumah. “Jadi, memang seharusnya konsentrasi di permukiman menjadi meningkat,” tambah Riris.
Baca Juga :
Cara Mudah Ukur Kadar Emas 1200K
Selain itu, Epidemiolog dari Universitas Airlangga (Unair), Laura Navika Yamani juga mengutarakan komentarnya terkait peningkatan konsentrasi mobilitas di permukiman.
“Ya, berisiko. Akan tetapi, perilaku masyarakatnya juga di daerah tersebut apakah sudah patuh protokol kesehatan atau belum,” ujarnya.
“Solusinya memang sebelum melonggarkan pengetatan, harus memastikan bahwa masyarakat sudah banyak yang patuh protokol kesehatan. Ini sebagai bentuk adaptasi kebiasaan baru,” tutup Laura.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar