Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawan. Begitu Presiden Indonesia pertama, Ir. Sukarno, berpesan ketika memperingati Hari Pahlawan pada 10 November 1961.
Lantas, bagaimana jika menghargai jerih payah para pahlawan saja tak mampu, apakah ini menandakan kita bukanlah bangsa yang besar?
***
Olimpiade 2020 akhirnya dibuka pada 23 Juli 2021 setelah tertunda setahun akibat pandemi virus corona. Indonesia mengirimkan 28 atlet untuk berlaga di delapan cabang olahraga.
Satu hal yang harus dipahami adalah untuk bisa berkompetisi di ajang sekelas Olimpiade, para atlet harus melalui serangkaian turnamen sebagai ajang kualifikasi.
Baca Juga :
Peluang Usaha Agen Software
Bulu tangkis misalnya, 11 atlet dari lima nomor yang berlaga di Olimpiade 2020, harus memenuhi persyaratan pengumpulan poin yang didapatkan dari turnamen. Jadi, 'hanya' untuk bisa lolos ke Olimpiade saja butuh perjuangan keras, sehingga tak elok rasanya jika kemudian atlet yang gagal dicap merusak reputasi.
Ketika berlaga di ajang sebesar Olimpiade, tak hanya teknis yang berbicara, persoalan psikis juga bisa jadi penentu hasil akhir. Belum lagi, tekanan dari lawan yang merupakan perwakilan terbaik dari tiap negara.
Dari sejumlah faktor itu, sudah sepatutnya perjuangan duta-duta Indonesia di Olimpiade mendapat apresiasi. Karena, itu tadi, perjuangan dan pengorbanan mereka begitu besar untuk bisa mengharumkan nama bangsa.
Kendati demikian, tak semua pihak tampaknya paham akan kondisi tersebut. Body shaming yang menimpa atlet angkat besi putri, Nurul Akmal, setidaknya bisa menjadi cerminan masih ada saja pihak-pihak yang tak memiliki empati terhadap perjuangan atlet.
Sekretaris Menteri Pemuda dan Olahraga (Sesmenpora) Gatot S Dewa Broto mengutuk keras perlakuan body shaming terhadap Nurul. Hal itu dilihatnya sebagai tindakan merendahkan olahragawan.
Baca Juga :
Tester Kemurnian Emas 600K
Komentar itu sangat tidak etis, tidak sopan dan betul-betul body shaming. Kami dari Kemenpora tentu mengecam keras ucapan tersebut," ujar Gatot
Ya, celetukan 'yang paling kurus' ketika Nurul berfoto dalam acara penyambutan atlet di Bandara Soekarno-Hatta, Kamis (5/8) dini hari WIB, terasa begitu miris. Sudah salah ucapan, salah tempat pula.
Ketua Komite Olimpiade Indonesia (NOC Indonesia) Raja Sapta Oktohari meminta semua pihak dapat menciptakan lingkungan kondusif dan positif untuk Nurul. Jangan sampai, exposure berkonotasi negatif secara terus-menerus dapat mengganggu kondisi psikologis atlet.
“Saya baru menelepon Amel (sapaan akrab Nurul), dia dalam keadaan sehat. Namun, ia mengaku cukup terganggu dengan pemberitaan yang terjadi baru-baru ini,” kata Okto dalam keterangan resminya, Sabtu (7/8).
“Namun, Amel memiliki jiwa yang sangat lapang. Dia menganggap perkataan itu bercandaan dan memaafkan perkataan oknum tersebut. Dia meminta untuk tidak dibesar-besarkan lagi, sehingga mari kita semua menyetopnya. Kejadian ini menjadi pelajaran bagi kita semua untuk tidak meremehkan orang lain, dalam bentuk apa pun. Apalagi, jika orang tersebut tak kenal dan tak tahu bagaimana perjuangan Amel,” katanya.
Bagaimana Nurul menyikapi peristiwa ini?
Lifter asal Aceh ini berbesar hati menerima perlakuan tak menyenangkan itu. ia pun meminta agar pembahasan soal body shaming terhadap dirinya disudahi.
Jujur jika dibahas terus menerus seperti sekarang ini, saya jadi tidak nyaman dan terganggu karena terlalu heboh. Saya ingin menjalani karantina dengan tenang dan ingin fokus menyiapkan diri untuk berlatih lebih giat dan tekun lagi, mengingat akan ada banyak kejuaraan dan multi event international yang juga akan saya ikuti,” ucap Nurul yang menempati posisi kelima di nomor +87kg putri Olimpide 2020.
Dan, akankah dengan kejadian ini kita jadi lebih bisa menghargai jerih payah para atlet, sang pahlawan bangsa yang telah berjuang di medan laga? Semoga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar