Sebuah penelitian terbaru menyebutkan bahwa seseorang yang percaya teori konspirasi COVID-19, lebih mungkin dites positif terkena virus, dibandingkan dengan orang yang punya keyakinan berbeda. Riset ini juga mengungkap benang merah antara orang yang teori konspirasi, lebih banyak melanggar aturan pembatasan.
Dikutip Science Alert, peneliti Jan-Willem van Prooijen bersama rekannya dari Vrije Universiteit Amsterdam, melakukan survei besar kepada 5.745 orang di Belanda. Para peserta ditanya soal kepercayaan mereka terhadap teori konspirasi. Setelah beberapa bulan kemudian, mereka disurvei lagi apakah pernah positif COVID-19 atau tidak.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mereka yang percaya, jadi berpotensi terpapar virus lebih besar. Dalam hipotesis studi ini menyoroti beberapa bahaya dari teori konspirasi virus corona yang menunjukkan bagaimana kepercayaan semacam itu, dapat memengaruhi dan memprediksi perilaku individu.
Baca Juga : Peluang Usaha Agen Software
Bahkan jika teori konspirasi sangat tidak masuk akal menurut logika atau bukti ilmiah, namun tampak nyata bagi yang mempercayainya, itu memiliki dampak nyata pada sikap, emosi, dan perilaku seseorang.- Jan-Willem van Prooijen, Peneliti dari Vrije Universiteit Amsterdam BelandaOrang percaya teori konspirasi COVID-19 abai aturan
Penelitian menunjukkan bahwa teori konspirasi COVID-19 terkait dengan sikap yang dapat membahayakan kesehatan masyarakat, seperti kurangnya dukungan untuk menjaga jarak, melanggar aturan pembatasan, dan lebih sedikit niat untuk melakukan vaksinasi.
Meskipun demikian, masih belum sepenuhnya jelas dari penelitian ini, bagaimana kepercayaan pada teori konspirasi COVID-19 berhubungan dengan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat dalam konteks pandemi.
Sekali lagi, hasil ini telah dihipotesiskan oleh para peneliti, atas dasar bahwa teori konspirasi mungkin berisiko lebih besar terinfeksi, karena keyakinan mereka tentang virus.
Tidak semua hipotesis peneliti didukung oleh data, tetapi banyak orang yang percaya konspirasi COVID-19 lebih mungkin menerima terlalu banyak pengunjung di rumah mereka selama lockdown, dan lebih mungkin mengunjungi pesta yang ramai, bar, atau restoran.
Selain itu, pemikir konspirasi lebih mungkin kehilangan pekerjaan dan pendapatan selama pandemi, dan data menunjukkan bahwa mereka juga lebih mungkin mengalami penolakan sosial, karena pandangannya.
Baca Juga : Belanja Kebutuhan Anak Mulai 5000-an
"Intoleransi terhadap penganut konspirasi sering terjadi di masyarakat. Orang yang meyakini konspirasi dapat menurunkan dukungan publik," tulis para peneliti.
Hal yang perlu dicatat bahwa meskipun ini adalah survei besar, tetapi masih terbatas dalam waktu penelitian dan peserta yang hanya ada di Belanda. Peneliti menyebutkan para peserta yang ikut survei pun menyatakan keyakinan konspirasi COVID-19 relatif sedikit.
Namun, terlepas dari keterbatasan itu, para peneliti menyarankan masih ada sesuatu yang jelas terjadi bahwa sebuah fenomena yang menunjukkan kepercayaan pada konspirasi COVID-19 pada akhirnya dapat menimbulkan kerugian serius, bahkan berbahaya bagi individu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar