Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyebutkan saat ini stok vaksin Sinovac telah menurun dan lebih didominasi oleh vaksin Pfizer dan AstraZeneca. Sayangnya, sebagian masyarakat enggan divaksinasi dengan dua merek tersebut.
"Ini disebabkan beberapa hal. Salah satunya adalah karena Sinovac [stok] vaksinnya sudah mulai menurun, diganti oleh AstraZeneca dan Pfizer. Dua vaksin ini sama amannya, efikasinya lebih tinggi. Tapi karena baru, masyarakat masih ragu untuk menggunakannya," ujar Budi Gunadi dalam konferensi pers terkait evaluasi PPKM di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (22/11).
Secara efikasi, Pfizer (95,5%) lebih tinggi dari Sinovac (65,3%). Sementara AstraZeneca sedikit lebih rendah (62,10%). Ketiganya juga menggunakan platform yang berbeda yakni mRNA (Pfizer), inactivated virus (Sinovac), dan adenovirus (AstraZeneca).
Baca Juga :
Dengan perbedaan tersebut, efek samping atau KIPI yang ditimbulkan menunjukkan kejadian ringan.
Pfizer
KIPI yang paling sering timbul yakni:
nyeri pada tempat suntikan
kelelahan
sakit kepala
nyeri otot
menggigil
nyeri sendi
demam
Dalam sebuah laporan yang diterima Vaccine Adverse Event Reporting System (VAERS), ditemukan adanya efek seperti radang otot jantung (miokarditis) dan radang selaput jantung (perikarditis) pada orang yang sudah divaksinasi menggunakan Pfizer, utamanya adalah laki-laki di bawah 30 tahun usai vaksinasi kedua.
Gejala yang dialami yakin sakit dada, sesak napas,perasaan memiliki jantung yang berdetak cepat atau berdebar-debar. Namun. kasus ini juga sangat jarang ditemukan.
Baca Juga :
Kulakan Pakaian Mulai 5000-an
AstraZeneca
KIPI ringan juga dilaporkan usai mendapat vaksin ini. Beberapa KIPI ringan ini contohnya adalah:
pusing
mual
nyeri otot (myalgia)
nyeri sendi (arthralgia)
nyeri di tempat suntikan
kelelahan
malaise (perasaan lelah, tidak nyaman, dan kurang enak badan)
dan demam
Berdasarkan kajian yang dirilis oleh European Medicines Agency (EMA) pada tanggal 7 April 2021, terdapat kejadian pembekuan darah setelah pemberian vaksin COVID-19 AstraZeneca termasuk kategori very rare/ sangat jarang (< 1/10.000 kasus) karena dilaporkan terjadi 222 kasus pada pemberian 34 juta dosis vaksin (0,00065%).
"Kejadian ini jauh lebih rendah dibandingkan kemungkinan terjadinya kasus pembekuan darah akibat penyakit COVID-19 sebesar 165 ribu kasus per 1 juta (16,5%)," tulis dalam keterangan resmi BPOM.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar