Virus corona varian Omicron menjadi ancaman bagi Indonesia. Sebab, meski belum terdeteksi di tanah air, sejumlah negara di dunia termasuk tetangga Indonesia, Singapura dan Malaysia, sudah mendeteksi adanya varian baru yang dikategorikan oleh WHO sebagai Variant of Concern (VOC) ini di negara mereka.
Dalam catatan GISAID, setidaknya ada 29 negara yang sudah melaporkan penemuan varian Omicron hingga Jumat (4/12). Mulai dari Afrika Selatan, Ghana, Bostwana, Inggris hingga Portugal.
Secara spesifik, untuk Singapura, tercatat dua kasus yang terdeteksi di sana. Lalu untuk Malaysia, kasus pertama dilaporkan ditemukan pada hari ini, Jumat (3/12). Temuan kasus di Malaysia itu diumumkan oleh Menkesnya, Khairy Jamaluddin.
"Itu terdeteksi dari pengunjung asing dari Afsel yang tiba di Malaysia via Singapura pada 19 (November)," ucap Khairy seperti dikutip dari Reuters.
Sementara di Australia, malah sudah terdeteksi adanya penularan lokal. Informasi Pemerintah Negara Bagian New South Wales (NSW), kasus pertama itu adalah seorang siswa di Sydney.
Baca Juga : Peluang Usaha Agen Software
Dia diketahui tidak pernah melakukan perjalanan ke luar negeri beberapa waktu terakhir. Otoritas kesehatan NSW menyebut, penemuan kasus baru ini merupakan pertanda bahwa penularan lokal sudah terjadi di Australia.
Ilmuwan Ospedale Pediatrico Bambino Gesu merilis ilustrasi penampakan virus corona varian Omicron yang menunjukkan mutasinya lebih banyak dibanding Delta.Dengan beberapa negara tetangga yang sudah 'bobol' duluan, lantas bagaimana kondisi di tanah air?
Jubir Kemenkes Siti Nadia Tarmizi menegaskan, hingga saat ini belum ditemukan adanya varian Omicron di Indonesia.
"Belum ditemukan," kata Siti.
Ia menegaskan, hal itu berdasarkan pantauan whole genome sequencing (WGS) pelaku perjalanan dari luar negeri.
"Kasusnya lebih pada pelaku perjalanan. Sampai sekarang belum kita temukan," tuturnya.
Lalu, apakah langkah untuk memastikan Indonesia benar-benar Omicron alias tak kecolongan?
"Kita sekuensing setiap kasus positif dari luar negeri," tutur dia.
Baca Juga : Dapatkan Kemeja Pria Termurah Disini
Jokowi Minta Hati-hati
Jokowi mengingatkan seluruh masyarakat soal bahaya varian Omicron dan ancaman gelombang keempat. Hal tersebut disampaikan saat Jokowi memberikan pengarahan pada Kepala Satuan Wilayah Kerja di Badung, Bali.
"Kita boleh bersyukur, boleh berbangga tapi tetap harus waspada. Hati-hati yang namanya sekarang ancaman gelombang keempat varian Omicron. Hati-hati. Tadi pagi saya dapat kabar sudah sampai ke Singapura," kata Jokowi di lokasi, Jumat (3/12).
Untuk mencegah masuknya varian Omicron ke Indonesia, Jokowi meminta polda di seluruh wilayah untuk menjaga titik perbatasan dengan negara lain. Sebab, varian Omicron bisa dibawa oleh orang asing yang masuk ke Indonesia.
"Yang membawa bisa orang-orang asing, bule-bule. Tapi juga bisa WNI kita sendiri. Utamanya tenaga kerja kita dari luar, waktu masuk kembali, pulang kampung, hati-hati," kata Jokowi.
'Pemerintah Perlu Pantau Orang dari LN dalam 2 Minggu ke Belakang'
Guru Besar FK UI Prof Tjandra Yoga menilai akan amat baik kalau pemeriksaan dilakukan terhadap siapa saja yang pulang dari luar negeri dalam kurun waktu 2 minggu ke belakang.
"Walaupun memang sejak 29 November sudah dilakukan penolakan masuk sementara ke wilayah Indonesia bagi orang asing yang pernah tinggal dan/atau mengunjungi daerah terjangkit, tetapi kan bisa saja orang asing itu sudah masuk negara kita tanggal 10 November misalnya, atau 15 November, dan lain-lain," urai Tjandra Yoga, Jumat (3/12).
"Mereka sudah selesai dikarantina 3 hari sesuai aturan waktu itu dan kini sudah ada di tengah-tengah masyarakat kita," imbuh dia.
Menurut dia, walaupun sesudah 3 hari karantina yang lalu PCR mereka negatif tapi karena masa inkubasi corona dapat sampai lebih dari 2 minggu. Maka bisa saja baru belakangan PCR-nya positif, seperti sudah terjadi di negara-negara lain.
Kalau ternyata memang ada yang PCR positif dan itu akibat varian Omicron maka tentu buruk akibatnya bagi situasi epidemiologi kita.
"Karena itu, harus ada mitigasi berlapis di mana perlu dilakukan penelusuran kepada mereka yang datang dalam 2 atau 3 minggu yang lalu. Apakah mereka sekarang sehat saja atau barangkali ada yang sakit yang tentu harus diisolasi dan ditangani dengan saksama, termasuk genome sequencing," tutup mantan Direktur WHO Asia Tenggara itu.
Infografik Varian Corona Omicron
WHO Minta Negara di Asia Bersiap
WHO memprediksi Asia-Pasifik akan mengalami lonjakan kasus COVID-19 varian Omicron. Mereka meminta pemerintah dan warga wilayah tersebut bersiap berhadapan dengan kemungkinan buruk.
Baca Juga : Kulakan Pakaian Anak Mulai 5000-an
Salah satu anjuran WHO adalah peningkatan kapasitas medis di Asia Pasifik. Percepatan vaksinasi terhadap kelompok rawan juga wajib dilakukan untuk menghadapi varian Omicron.
"Pengendalian perbatasan dapat mengulur waktu tapi setiap negara dan masyarakat harus bersiap berhadapan dengan lonjakan kasus," ucap Direktur Regional WHO untuk Pasifik Barat Takeshi Kasai seperti dikutip dari Reuters.
"Warga tidak boleh hanya bergantung pada pengendalian perbatasan. Yang paling penting bersiap dengan varian penularan tinggi ini. Sejauh ini informasi yang tersedia kami tak perlu mengubah pendekatan," sambung dia.
Kasai menambahkan, pengalaman menghadapi varian Delta juga harus dipakai saat berhadapan dengan varian Omicron. Oleh sebab itu, disiplin protokol kesehatan seperti memakai masker dan menjaga jarak harus selalu dilakukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar