Pelaksanaan vaksin booster sudah dilakukan sejak 12 Januari 2022 lalu.
Lantas, berapa lama daya tahan vaksin booster ini?
Simak penjelasannya berikut.
Diketahui, BPOM dan ITAGI (Indonesian Technical Advisory Group on Immunization) mengeluarkan izin enam jenis vaksin yang bisa digunakan sebagai vaksinasi booster.
Keenam jenis vaksin tersebut di antaranya:
- CoronaVac
- Pfizer
- AstraZeneca
- Moderna
- Sinopharm
- Zififax
Dari keenam jenis vaksin tersebut, pemerintah menggunakan vaksin jenis Pfizer, AstraZeneca, dan Moderna untuk vaksin booster yang akan diberikan pada triwulan pertama 2022.
Baca juga : Peluang Usaha Agen Software
Berapa lama vaksin booster melindungi tubuh?
Dilansir dari Deseret News, vaksin booster dapat meningkatkan perlindungan tubuh terhadap virus Covid-19.
Kendati demikian, efektivitas vaksin booster tersebut akan berkurang dari waktu ke waktu.
Efektivitas ini akan berkurang setelah empat bulan sejak suntikan vaksin booster diberikan.
Data tersebut sebagaimana dilaporkan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), Jumat (11/2/2022).
Kendati demikian, CDC menyebutkan, efektivitas vaksin booster pada pasien Covid-19 lebih tinggi jika dibandingkan dengan vaksin kedua.
Efektivitas vaksin booster bisa mencapai 87 persen dan 91 persen pada bulan kedua sejak suntikan vaksin booster diberikan.
Sementara di bulan keempat, tingkat efektivitas vaksin booster memang mengalami penurunan menjadi 67 persen dan 78 persen.
Baca juga : Cara Mudah Tes Kemurnian Emas
Anjuran vaksin booster
Kendati efektivitas vaksin booster akan mengalami penurunan dari waktu ke waktu, CDC tetap mengimbau agar masyarakat seluruh dunia segera melakukan vaksinasi booster.
Pasalnya, dilansir dari laman CDC, vaksin booster sangat direkomendasikan untuk melindungi pasien dari risiko rawat inap dan IGD akibat paparan virus Covid-19 termasuk varian Omicron.
Sebagaimana diberitakan Deseret News, para ahli telah mengatakan untuk sementara waktu vaksin booster COVID-19 dapat memberikan perlindungan yang kuat terhadap virus corona, termasuk varian Omicron yang sangat menular.
Pada akhir Januari lalu, CDC juga telah melakukan studi mengenai pusat perawatan kesehatan di 10 negara bagian, termasuk Intermountain Healthcare di Utah.
Studi tersebut menemukan suntikan booster COVID-19 mampu menggandakan perlindungan tubuh dari varian Omicron yang menular.
"Secara keseluruhan, mereka yang menerima dosis booster memiliki perlindungan paling besar terhadap kunjungan ruang gawat darurat, kunjungan klinik perawatan mendesak, dan rawat inap," kata Dr. Rochelle Walensky selaku Direktur CDC, dikutip dari Deseret News.
Prediksi puncak Omicron
Sementara itu, Indonesia diprediksi akan menghadapi puncak kasus Covid-19 varian Omicron pada awal Maret 2022.
Baca juga : Daster Arab Jumbo Termurah
Prediksi tersebut disampaikan oleh Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2P) Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Siti Nadia Tarmizi.
"Kita (Kemenkes) akan melihat tren peningkatan (kasus Covid-19 varian Omicron). Kita prediksi bahwa akhir Februari atau awal Maret 2022 merupakan puncak kasus Omicron," ujar Nadia.
Menurut prediksi Kemenkes, puncak kasus Covid-19 varian Omicron akan lebih tinggi 3 sampai 6 kali daripada varian Delta.
Kendati demikian, Nadia mengimbuhkan ketersediaan tempat tidur di rumah sakit akan terkendali meskipun lonjakan kasus Covid-19 varian Omicron terjadi.
Pasalnya, banyak pasien Covid-19 varian Omicron mengalami gejala ringan dan tanpa gejala sehingga dapat melakukan isolasi mandiri di rumah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar